Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karomah Kyai As'ad Menurunkan Hujan

 

Kyai As'ad dan Presiden Soeharto

Muktamar Nahdlatul Ulama ke-27 dilaksanakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Situbondo pada Desember 1984. Kyai As'ad pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah tersebut dikenal sebagai salah seorang kyai yang sangat konsen terhadap keberadaan NU. Ketika terjadi konflik antara NU dan politisi pada 1982, Kyai As'ad bersama kyai-kyai lain seperti Kh. Ali Maksum, KH. Maskur, KH. Mahrus berperan penting dalam usaha meluruskan arah strategi perjuangan NU yang sebenarnya. Jadi, peran Kiai As'ad dalam NU tidak diragukan lagi.

Tentu saja Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Situbondo ini berbenah diri untuk menyambut pelaksanaan muktamar tingkat nasional yang akan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto.

Diceritakan bahwa menjelang kehadiran presiden, persiapan lapangan untuk mendarat helikopter ditangani oleh petugas khusus. Saat itu, beberapa petugas mengadakan penyerangan lapangan Sodung - sekitar 2 km dari lokasi pondok - maklum ketika itu cuaca sangat panas sehingga agar debu tidak berterbangan ketika helikopter yang dinaiki presiden dan rombongan mendarat lapangan Sodong itu perlu disiram air. Demi kenyamanan, petugas pun mendatangkan truk tangki berisi air guna disemprotkan ke lapangan yang kering itu.

Saat beberapa petugas tengah sibuk melakukan penyiraman lapangan, tiba-tiba Kyai As'ad muncul. "Memakai uang siapa menyirami lapangan seluas ini", tanya kyai As'ad kepada para petugas. "Jika pemerintah memiliki banyak uang, lebih baik dipergunakan untuk memperbaiki jalan di sebelah utara saja, percuma menyirami lapangan ini sebentar lagi akan turun hujan. Lagi pula Pak Harto tidak mendarat di lapangan ini", lanjut Kyai As'ad kemudian.

Komandan lapangan yang ditugasi untuk memimpin penyiraman lapangan itu pun merasa serba salah, ia menjawab "Kami hanya melaksanakan tugas dari atasan, kyai". Kyai As'ad diam dan kemudian kembali ke pondok.

Benar saja sesaat setelah Kyai As'ad meninggalkan lapangan, tiba-tiba rintik-rintik hujan turun dan kemudian hujan pun semakin lebat. Kini lapangan Sodong pun basah dengan air hujan. Sementara itu, para petugas penyiram lapangan pun berlalu berlarian untuk berteduh. Mereka berlarian menuju rumah penduduk untuk berteduh. Namun, apa yang terjadi ternyata hujan hanya turun di sekitar lapangan Sodung saja, di luar lapangan itu di perkampungan penduduk sama sekali tidak terjadi hujan.

"Di luar lapangan tidak terjadi hujan, hujan hanya terjadi di lapangan sini saja", ucap para petugas yang menyaksikan kejadian khawariqul adah tersebut. Dan juga ternyata Presiden Soeharto tidak jadi mendarat di lapangan Sodung. Presiden justru mendarat di lapangan Karang Teluk yang tidak dipersiapkan untuk mendarat sebelumnya, persis sebagaimana yang diucapkan Kyai As'ad bahwa Pak Harto tidak akan mendarat di lapangan Sodung.


Kisah disadur dari Buku Karomah Kiai halaman 19

Posting Komentar untuk "Karomah Kyai As'ad Menurunkan Hujan"