Sumur Keramat Kiai Isbat Pamekasan Madura
Sumur Keramat Kiai Isbat Pamekasan Madura
Kyai Isbat adalah kyai pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Dusun Banyuanyar Desa Potoan Daya Kecamatan Palengaan Pamekasan Madura. Pondok Pesantren Darul Ulum didirikan pada tahun 1887 Masehi. Menurut silsilah yang ditulis oleh keluarga Pesantren Darul Ulum kyai isbat adalah putra kyai Ishak Sumber Penjalin yang masih ada keturunan darah biru dari Pamekasan yakni dari Nyai Limbang Putri Kyai Agung Cendana putra panembahan kulon putra Syaikh Ainul Yaqin (Sunan Giri).
Sebelum mendirikan Pesantren Darul Ulum, Kyai Isbat tinggal di Dusun Lonsereh Desa Tlangkang Kecamatan Robatal Kabupaten Sampang. Apa hendak dikata, "mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak", rupanya sudah menjadi suratan takdir bahwa suatu hari Kyai Isbat terkena musibah yaitu anaknya meninggal tenggelam di dalam kolam. Akibatnya, istrinya mengalami trauma dan tidak mau tinggal di Lonsereh lagi. Maka, Kyai Isbat sekeluarga berpindah ke Dusun Banyuanyar.
Ketika Kyai Isbat sekeluarga datang di Dusun Banyuanyar, dusun ini merupakan hamparan tanah tegalan yang gersang. Penduduk dusun ini sering mengalami kekurangan air. Perilaku penduduk pun kurang terpuji, dalam arti sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Kebanyakan diantara mereka suka memelihara burung merpati dan setiap hari mereka disibukkan dengan burung merpatinya itu, biasanya burung-burung itu dikurung dalam sangkar dan digantung di atas tiang yang tinggi. Burung merpati itu bukan sekedar dipelihara melainkan untuk diadu dengan taruhan uang alias bermain judi.
Kehadiran Kyai Isbat di dusun ini mungkin sesuai dengan kata pepatah "sekali dayung dua pulau terlampaui". Selain ingin menghilangkan trauma atas musibah yang menimpa putranya, Kyai Isbat juga mengemban misi untuk melakukan dakwah kepada penduduk agar mereka yang terbiasa melakukan perbuatan maksiat bisa secara berangsur-angsur meninggalkannya dan mendekati ajaran agama Islam. Maka di tempat yang baru itu Kyai Isbat segera mendirikan sebuah masjid. Melalui masjid inilah kyai isbat mengajak penduduk dusun untuk kembali ke ajaran Allah dan meninggalkan kebiasaan kebiasaan buruk.
Pada awalnya, ajakan Kyai Isbat ini tidak berjalan mulus. Tidak sedikit penduduk yang acuh terhadap ajakan kiai, bahkan ada beberapa di antara mereka yang menghalangi dakwahnya. Walaupun demikian, Kyai Isbat tidak surut melakukan dakwah secara perlahan kepada penduduk.
Suatu ketika penduduk dusun ini mengalami kesulitan air yang amat sangat. Panas matahari semakin mengganas dan sumber-sumber air di dusun ini tidak lagi mengeluarkan air sedikitpun. Penduduk merasakan kekeringan di mana-mana sehingga sawah dan tegalan tidak bisa tumbuh. Lagi pula kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari tidak bisa terpenuhi. Dalam keadaan demikian itulah atas izin Allah secara tiba-tiba di depan masjid yang dibangun Kyai Isbat menyembur sebuah sumber air yang memancarkan air jernih. Masyarakat pun senang lantaran kebutuhan air mereka terpenuhi sebab munculnya sumber air di depan masjid yang dibangun Kyai Isbat.
Melihat keajaiban tersebut, penduduk dusun pun menganggap bahwa hal ini tidak lain adalah karomah Kyai Isbat. Penduduk dusun yang tadinya menghalangi dan memusuhi ajakan Sang Kiai, kini berangsur-angsur mengikuti dakwahnya, bahkan mereka menjadi pengikutnya yang setia. Karena munculnya sumber air baru di depan masjid yang dibangun kyai Isbat itu, maka kemudian dusun itu dikenal dengan nama Banyuanyar yang artinya air baru.
Cerita disadur dari buku Karomah Para Kiai halaman 326
Posting Komentar untuk "Sumur Keramat Kiai Isbat Pamekasan Madura"